Mengenai Ekstrapolasi Kepopuleran di Survey Kompas yang Disyukuri TKN Jokowi

Mengenai Ekstrapolasi Kepopuleran di Survey Kompas yang Disyukuri TKN Jokowi

Jakarta – Beberapa anggota tim sukses Jokowi-Ma’ruf pilih menyoroti ekstrapolasi kepopuleran dari survey Litbang Kompas yang launching tempo hari. Apakah itu ekstrapolasi kepopuleran?

Anggota TKN Jokowi Ridlwan Habib menjelaskan hasil survey Litbang Kompas begitu baik, tampak dari ekstrapolasi kepopuleran Jokowi-Ma’ruf Amin sebesar 56,8%. Ia menyebutkan sedikit instansi survey yang tampilkan angka ekstrapolasi ini.

“Alhamdulillah, puji Tuhan, perkiraan dengan ilmiah dari Litbang Kompas umumnya begitu tepat. Kemenangan Pak Jokowi tambah lebih besar dari 2014,” tutur Ridlwan, Rabu (20/3/2019) tempo hari.

Hal sama disorot Ketua Team Kampanye Daerah (TKD) Jawa Timur, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin. Menurut dia, data ekstrapolasi itu jarang dilihat tetapi malah dapat menunjukkan perkiraan hasil akhir Pemilihan presiden 2019.

“Jadi alhamdulillah, ekstrapolasi ini kan satu cara ilmiah, prediksi data ke depan berdasar pada skema cenderung data yang ada sekarang ini. Bahasa awamnya ini seperti perkiraan hasil akhir. Jika berdasar pada ekstrapolasi survey Kompas, beda 01 serta 02 itu 13,6 %, cukuplah tebal serta susah dikejar dalam bekas waktu kurang-lebih satu bulan,” tuturnya.

“Malah sesudah lihat ekstrapolasi itu kita lebih semangat untuk ngebut, ‘gaspol’ supaya margin semakin tebal,” tambah Machfud.

Bagaimana sebetulnya hasil ekstrapolasi kepopuleran Jokowi-Ma’ruf di Survey Litbang Kompas?

Survey Litbang Kompas diselenggarakan pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan menyertakan 2.000 responden yang diambil dengan acak memakai cara pencuplikan sistematis bertingkat di 34 propinsi di Indonesia. Margin of error survey ini plus-minus 2,2 % dengan tingkat keyakinan 95%.

Akhirnya, kepopuleran Jokowi-Ma’ruf 49,2 % serta Prabowo-Sandiaga 37,4 %, dengan 13,8% responden merahasiakan pilihannya. Beda diantara ke-2 pasangan calon sebesar 11,8%.

Di lain sisi, ada juga hasil ekstrapolasi kepopuleran. Hasil yang launching pada Maret 2019 ini pula dibanding dengan hasil survey awal mulanya pada Oktober 2018. Di bawah ini perbandingannya:

Baca Juga : Prabowo Meminta Pendukungnya Nginap di TPS, Pro-Jokowi akan Sediakan Tikar

Ekstrapolasi kepopuleran Oktober 2018

01. Jokowi-Ma’ruf: 61,7%

02. Prabowo-Sandiaga: 38,3%

Ekstrapolasi kepopuleran Maret 2019

01. Jokowi-Ma’ruf: 56,8%

02. Prabowo-Sandiaga: 43,2%

Apakah itu ekstrapolasi kepopuleran?

Litbang Kompas mengatakan angka hasil ekstrapolasi dikerjakan dengan mengasumsikan grup yang belumlah akan memutuskan pilihannya (undecided voters) akan terdiri dengan seimbang menurut pencapaian nada. Dengan mengasumsikan undecided voters akan terdiri dengan seimbang menurut pencapaian survey, kekuatan kemenangan Jokowi-Ma’ruf sekarang ini 56,8% tambah tinggi dibanding Prabowo-Sandi dengan 43,2%.

“Walau beda keterpilihan makin sempit, tempat Jokowi-Amin diprediksikan masih tetap cukuplah aman untuk memenangkan pemilihan presiden. Hasil ekstrapolasi kepopuleran tunjukkan kesempatan kemenangan Jokowi-Amin semakin besar daripada Prabowo-Sandi,” kata periset Litbang Kompas, Bambang Setiawan, seperti diambil dari Harian Kompas.

Meskipun begitu, hasil tentunya masih tetap dapat beralih. Dalam catatan Litbang Kompas saat 6 bulan, angka kepopuleran hasil ekstrapolasi tunjukkan penurunan 4,9% untuk Jokowi-Ma’ruf, sedang kenaikan 4,9% untuk Prabowo-Sandiaga. Dengan begitu, kepopuleran Jokowi turun 0,82% setiap bulan.

“Jika laju penurunan ini stabil, diperkirakan kekuatan akhir pencapaian Jokowi-Amin akan menyusut jadi 56% waktu pengambilan suara bulan kedepan. Dengan margin of error 2,2 %, pencapaian nada Jokowi-Amin dapat sekitar 53,8-58,2%. Demikian sebaliknya, pencapaian Prabowo-Sandi ke arah rata-rata 41,8-46,2%,” tutur Bambang Setiawan.

Pemred Harian Kompas, Ninuk Pambudy, menuturkan hasil survey Litbang Kompas ini tentunya masih tetap dapat beralih sampai pencoblosan 17 April 2019. Ke manakah nada undecided voters berlabuh dapat juga jadi penentu.

“Masih tetap ada waktu satu bulan kembali, semua dapat beralih. Masih tetap ada undecided voters, mungkin yang katakan iya masih tetap dapat berubah-berubah. Jadi itu masih tetap dapat beralih. Masih tetap ada beda 11,8%. Itu kan beda yang besar. Apapun dapat berlangsung, dalam pengertian dapat naik,” kata Ninuk pada detikcom.

“Ada ekstrapolasi. Jika semua pilih ke Prabowo jadi berapakah, jika semua pilih Jokowi jadi berapakah. Potensinya masih tetap itu,” ujarnya.