Bawaslu Teruskan Laporan OSO Atas KPU Masalah Tidak Masuk DCT DPD 

Bawaslu Teruskan Laporan OSO Atas KPU Masalah Tidak Masuk DCT DPD

Jakarta – Bawaslu mengadakan sidang pendahuluan laporan Ketum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) atas KPU berkaitan pendapat pelanggaran administrasi. Bawaslu akan memutuskan laporan itu diteruskan dalam sidang kontrol.

“Mengambil keputusan, mengatakan laporan yang dikatakan pelapor di terima serta diteruskan dengan sidang kontrol,” tutur Ketua Bawaslu Abhan, dalam sidang pendahuluan di kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (27/12/2018).

Dalam sidang, Abhan didampingi oleh anggota Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo. Diluar itu ada pelapor yang kuasa hukum OSO, Dodi S Abdul Qadir, Herman Kadir serta Gugum Ridho Putra.

Laporan pendapat pelanggaran administrasi ini dilakukan tindakan sebab dipandang penuhi prasyarat formil serta materil. Berdasar pada kelengkapan itu Bawaslu mengatakan mempunyai kuasa untuk mengecek serta akan memutuskan hasil laporan.

“Jika hasil kontrol Bawaslu ambil rangkuman seperti berikut, satu jika laporan terlapor sudah penuhi prasyarat formil serta materil. Bawaslu berkuasa mengecek, membahas serta memutuskan laporan yang dikatakan oleh pelapor,” tutur Dewi membacakan pertimbangan laporan.

Sidang ini akan diteruskan dengan agenda pembacaan inti laporan Besok (28/12) pada jam 14.00 WIB. Abhan menjelaskan pihaknya akan menanyakan persiapan KPU untu mengemukakan respon atas laporan.

Baca Juga : Mardani Meminta Jumlahnya Penjualan Blanko e-KTP Di buka ke Publik

“Setelah itu kami akan agendakan untuk kontrol besok hari Jumat jam 14.00, dengan agenda pembacaan pokok-pokok laporan dari pelapor. Jika KPU telah siap kami meminta untuk mengemukakan respon jika tidak kelak sidang selanjutnya,” papar Abhan.

Berdasar pada laporan, KPU ditunjuk lakukan pelanggaran administrasi berkaitan putusan Mahkamah Agung serta Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Pelanggaran administrasi ini berkaitan dengan penerbitan surat KPU dengan nomer 1492 pada tanggal 8 Desember 2018, tentang pengunduran diri menjadi pengurus parpol buat calon anggota DPD RI Pemilu 2019.

Surat ini dipandang tim OSO bertentangan dengan putusan Mahmakah Agung serta putusan Pengadilan Tata Perlu Negara (PTUN). MA akan memutuskan Pemilu 2019 dapat dibarengi calon anggota DPD yang pengurus partai politik, sedang putusan PTUN Jakarta memerintah KPU masukkan nama OSO menjadi calon DPD pada Pemilu 2019, serta menggagalkan surat ketetapan DCT (rincian calon masih) KPU awal mulanya.

Surat KPU nomer 1492 itu menyusul ketetapan Mahkamah Konstitusi (MK) yang akan memutuskan anggota DPD dilarang dari partai politik. KPU lantas akan memutuskan, calon anggota DPD mesti keluar dari kepengurusan partai jika ingin masih maju. Dalam masalah ini, OSO ikut memberikan laporan KPU ke pihak kepolisian.